jump to navigation

Jalan Tol Pondok Ranji – Serpong (BSD) Memprihatinkan March 10, 2010

Posted by Anton Purba in Ungkapan.
Tags: , , , , ,
add a comment

Beberapa hari ini banyak keluhan dari TTM di milis “bsd-society” tentang kualitas jalan Tol Serpong-Pondok Ranji. Saya pribadi menganggap keluhan ini sangat wajar melihat kondisi ruas jalan tol tersebut. Meskipun akhir-akhir ini Saya lebih sering naik KA untuk menuju kantor di Jakarta, tetapi di beberapa kesempatan Saya masih melintas di Tol yang baru saja mengalami pelebaran dari 2 lajur menjadi 3 lajur. Jalan tol Serpong-Pondok Ranji adalah bagian dari ruas jalan tol Jakarta- Serpong (tepatnya Ulujami-Serpong, 13.1km), dimana untuk ruas Ulujami-Pondok Ranji (5.9km) dikuasai oleh PT. Jasa Marga dan ruas Pondok Ranji-Serpong (tepatnya Pondok Ranji-BSD, 7.2km) dikelola oleh Nusantara Infrastructure. Sekedar informasi Nusantara Infrastructure adalah anak usaha dari Bosowa Corporation, milik pengusaha Aksa Mahmud. Untuk mengelola Tol Serpong-Pondok Ranji, diserahkan kepada PT. Bintaro Serpong Damai, yang merupakan anak usaha dari Nusantara Infrastructure.

Selama ini, penilaian Saya pribadi kualitas ruas Serpong-Pondok Ranji memang jauh dari nyaman, apalagi aman. Jalan banyak bergelombang dan masih berupa jalan beton yang cenderung tidak rata. Sejak awal 2009 pihak Nusantara Infrastructure melakukan pelebaran dari 2 lajur menjadi 3 lajur, karena seperti tulisan Saya sebelumnya, dengan 2 lajur, tol ini kadang tersendat, dan sering terjadi tabrak belakang. Saat proses pelebaran, jalan ini juga cenderung berantakan dan sering membuat pengemudi terkejut, karena tiba-tiba didepan ada penyempitan, tumpukan material, dan lain-lain.  Ujung-ujungnya, sering terjadi kecelakaan yang menabrak pembatas jalan yang dibuat sementara.

Saat ini proses pelebaran sudah selesai, tetapi kondisi jalan bukannya lebih baik, malah sangat-sangat memprihatinkan, karena terjadi perbedaan ketinggian antara 2 lajur sebelumnya dangan lajur baru. 2 lajur sebelumnya sudah diberi lapisan aspal hot-mix, sementara lajur yang baru dibiarkan telanjang. Itulah yang menyebabkan terjadinya beda ketinggian.  Selain itu, lajur yang barupun kualitasnya sangat buruk, bergelombang, dan masih banyak sisa-sisa kerikil yang bertebaran dan sangat berbahaya.

Buruknya kualitas jalan tol ini tidak sebanding dengan tarif sebesar 4000 rupiah untuk jarak cuma 7 km.  Beberapa TTM  di “bsd-society” sudah kasak-kusuk untuk melakukan “CLASS ACTION” atas buruknya kualitas jalan tol ini. Harapan Saya, GROUP BOSOWA sebagai induk dari pengelola jalan tol ini mengambil inisiatif untuk melakukan perbaikan, misalnya pengaspalan secara menyeluruh. Jangan melakukan perubahan setelah muncul korban-korban yang sebagian besar adalah pekerja dan memiliki keluarga yang setia menunggu di rumah.

Lagi: Transportasi Massal (KA) Yang Memprihatinkan March 9, 2010

Posted by Anton Purba in Ungkapan.
Tags: , , ,
add a comment

Sudah 3 bulan terakhir Saya rajin naik KA (KRL or KRD) ke kantor. Awalnya memang cukup melelahkan, tapi  lama-lama Saya mulai menikmati perjalanan dengan KA.  Keputusan Saya untuk menggunakan KA berawal dari vonis Dokter, bahwa Saya mengidap fatty liver. Bukan sejenis penyakit, tapi dapat menyebabkan lahirnya penyakit yang berhubungan dengan gangguan hati. Selain itu kenyamanan yang Saya dapat dengan mengemudikan mobil dari rumah ke kantor (BSD-Kuningan Barat) juga makin lama, makin berkurang. Kemacetan setelah masuk daerah Jakarta, kadang membuat Saya frustasi. Akhirnya dengan tekad yang membaja, Saya memulai untuk menggunakan transportasi umum. Ada dua pilihan, naik Bus (Feeder atau AKAP) dan KA. Kadang-kadang Saya pilih Bus, kalau sudah jenuh naik KA. Resiko naik Bus, setelah masuk Jakarta, kembali Saya harus bermacet ria dalam Metro Mini yang menurut Saya termasuk transportasi yang kurang manusiawi. Kalau naik KA, Saya cukup naik “ojek” dari Stasiun Palmerah ke kantor di Kuningan Barat. Tapi kali ini Saya akan fokuskan untuk membahas KA saja, karena sebenarnya ini adalah transportasi yang startegis jika dikelola dengan baik dan profesional.

O…ya, sebagai intermezo, dengan menaiki KA, Saya punya kesempatan untuk melakukan olahraga dengan jalan kaki dari rumah ke Stasiun Rawabuntu (BSD). Jaraknya kira-kira 2km, untuk 1.5km Saya masih melalui jalan yang dalam komplek, sisanya 500m melalui jalan umum. 1.5km pertama cukup nyaman karena tidak ada debu dan polusi, tapi sayang, ada para crosser dan pembalap F1 yang belum punya SIM, sehingga tidak dapat membaca rambu-rambu yang cukup besar dengan tulisan 20km, berwarna merah. Dalam 500m sisanya, kadang Saya harus menutup mulut untuk menghindari debu dan asap knalpot dari kenderaan uzur yang tidak tau etika. Dengan jalan 2km/hari (jalan cepat), badan Saya jadi  segar dan berkeringat, sesuatu yang tidak Saya dapat kalau naik mobil ke kantor.  Tekad Saya, untuk 1 tahun paling tidak Saya berjalan sebanyak 230 hari, yang berarti Saya sudah berjalan dari Jakarta-Semarang.

Kembali ke masalah KA, sampai di stasiun Rawabuntu, biasanya Saya naik apa yang ada, ada KRL Ekonomi, KRD Ekonomi, KRL AC Ekonomi, atau kalau untung naik KRL Ekspres (jika berangkat pagi). Tapi biasanya Saya lebih sering naik KRL/KRD yang berangkat diantara jam 7.40-8.00, dengan begitu Saya bisa berangkat dari rumah jam 7 lebih dikit dan dengan leluasa menikmati sengatan matahari pagi ketika berjalan dari rumah ke stasiun, sesuatu yang jarang Saya dapatkan sebelumnya. Thank’s God, sekarang kulitku makin bersinar…hahaha.

3 bulan berjalan, membuat Saya merasakan betul bagaimana  harus berjuang untuk menaiki sebuah KA, mulai dari jam keberangkatan yang ketat dan juga perjuangan dalam KA yang hampir dapat dipastikan, Saya tidak pernah dapat tempat duduk (karena naik bukan di stasiun pemberangkatan). Saya harus berjibaku dengan sesama penumpang, bahkan yang paling menjengkelkan adalah plotot-plotoan dengan pedangang asongan, pengemis dan pengamen yang tentu saja tidak pernah bayar karcis, walaupun statusnya adalah penumpang (karena tidak ada pedagang, pengemis dan pengamen legal, maka mereka tetap sebagai penumpang, tapi ilegal). Tau kah Anda kalau ternyata gerbong terakhir KA Ekonomi itu merupakan gerbong kekuasaan para pedagang asongan, pengemis dan pengamen? Ya…Saya sengaja selalu memilih gerbong secara acak, dan Saya menemukan kalau gerbong terakhir dikuasai oleh 3 kelompok tersebut. Mereka dengan santai duduk di kursi, sementara penumpang legal (yang bayar karcis), harus rela bergelantungan. Cukup menjengkelkan, ditambah lagi kelakuan sebagian besar penumpang yang menurut Saya sangat kurang ajar dengan merokok dalam KA. Belum lagi perilaku penumpang yang buang sampah sembarangan, duduk di dalam gerbong yang seharusnya tempat berdiri, naik di atas gerbong (KRD), dan banyak lagi. Saya jadi terpaku, apakah pernyataan bahwa kelas menengah kebawah memiliki perilaku buruk terhadap lingkungan dan keselamatan adalah suatu kebenaran? Buktinya, kalau dilihat dari penampilan sebagian besar penumpang KA Ekonomi (non AC) adalah menengah kebawah.

Itu adalah sekelumit perilaku dari pengguna KA Ekonomi (non AC) yang menurut Saya cukup memprihatinkan. Lalu bagaimana dengan perilaku Operator, dalam hal ini PT. KAI? Dibeberapa Stasiun, Saya sudah melihat pemasangan alat untuk membaca tiket elektronik, dan juga lock-door-nya. Sudah cukup lama, tapi sampai sekarang belum dioperasikan. Terus terang Saya pribadi menganggap bahwa ini hanyalah ajang mencari proyek oleh pihak PT. KAI. Tapi, menurut Saya, PT. KAI terlalu berani, karena megeluarkan kebijakan tanpa ada studi kelayakan yang memadai. Mengapa demikian? Kalau diperhatikan, infrastruktur semua stasiun yang ada di Jabodetabek, menurut saya belum  100% memadai. Bahkan yang sempurna 100% juga belum ada, karena setiap orang tetap saja dapat masuk ke Stasiun dari segala penjuru (terbuka). Penggunaan tiket elektronik idealnya diterapkan pada stasiun-stasiun yang sudah menerapkan akses 1 pintu (tertutup), sehingga semua akan dapat terkontrol di satu titik, dan untuk itu perlu pembangunan infrastruktur stasiun yang relatif mahal. Menurut Saya, kondisi stasiun sekarang sangat-sangat kontradiktif dengan pembuatan gerbang tiket elektronik. Jika tujuannya adalah untuk “menertibkan” penumpang gelap, Saya jamin 100%, itu tidak akan tercapai. Karena penumpang tanpa melalui gerbang elektronikpun akan dapat masuk dengan leluasa. O…ya, saat ini  “kadang-kadang” di atas KA, kondektur memeriksa tiket penumpang, apakah nanti dengan tiket elektronik ada juga pemeriksaan tiket diatas KA? Jadi lucu kan…hahaha? Makanya, Saya jadi prihatin.

Hal yang lain adalah, Operator selama ini sangat-sangat tidak tegas terhadap pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan penumpang. Awal-awal tegas, tapi kemudian ada excuse, dan akhirnya pembiaran, karena lama-kelamaan petugasnya jadi malas. Jadwal yang sering tidak tepat waktu, kondisi KA yang kurang manusiawi (sumber penyakit tetanus), kondisi stasiun yang penuh sesak oleh lapak-lapak pedagang ilegal, adalah sederet keprihatinan Saya terhadap transportasi massal yang satu ini.

Wisata Alam: Curug Luhur “nginep” di Desa Gumati March 2, 2010

Posted by Anton Purba in Ungkapan.
Tags: , ,
add a comment

Tanggal 26 February kemarin, kami sekeluarga ikut nebeng ke acara Outing Pemuda di Gereja. Karena statusnya nebeng, kita cuma ikut acara “hepi-hepi” nya aja. O..ya sebelumnya ada kejadian serius yang hampir saja membatalkan keikutsertaan kami dalam acara ini.

Tujuan outing kali ini adalah ke Curug Luhur, sebuah lokasi wisata alam yang konon memiliki 3 buah air terjun (curug). Kenapa konon, karena Saya belum pernah kesana sebelumnya. Menurut jadual, semua akan berangkat dari Gereja jam 06.00, 26 Feb 2010,  baik yang peserta beneran, atau peserta penggembira (seperti kami). Karena ada kerjaan maintenance di kantor (biasa kalau besoknya libur, di kantor pasti ikut-ikut sibuk mau maintenance), terpaksa Saya harus nginep tanggal 25 malam, dan menurut rencana cabut dari Kantor jam 05.00 pagi, dan sesuai itung-itungan, sampai di BSD sekitar jam 05.40 an. Hari Kamis, 25 Feb, Saya memang sengaja bawa mobil, supaya lebih fleksibel ngejar waktunya. Ketika alarm di HP berbunyi di jam 04.45, Saya terbangun dan bergegas untuk siap-siap ke tempat parkir. Sampai ditempat parkir, sengan santai dan percaya diri Saya pencet “unlock” di remote, untuk membuka pintu mobil. Tapi setelah berkali-kali dicoba, pintu tidak juga terbuka , setelah Saya perhatikan, ternyata tidak ada lampu yang menyala di remote yang Saya pengang. Gawat…berarti batere remote habis, padahal baru diganti. Sedikit panik, telpon ke kantor, dan minta tolong sama supir kantor yang kebetulan nginep (Saya juga gak mau ngutak-atik sendiri, karena pasti bunyi, dan Satpam-satpam pada nanya ini-itu). Setelah sang supir (Kang Dayat) sampai di parkiran, pintu dibuka pakai kunci dalam kondisi alarm masih aktif, akibatnya sirine bunyi “tuit-tuit”…dan benar juga, Satpam menghampiri, tapi karena ada 2 orang dan sedang sibuk nyari kabel untuk mutusin ke arah sirine, si Satpam dengan bijak gak nanya ini-itu. Setelah kabel diputus, bunyi sirine berhenti, dan mobil di starter manual dari kolong (Baru tau saya, kalau alarm aktif, mobil gak bisa di starter).

Di saat yang sama, Mama Jonnah sibuk telpon, nanyain statusnya. Saya bilang, kasih tau saja ke Gereja kalau kita nyusul, karena tidak mungkin lagi bisa ngejar untuk berangkat jam 06.00.  Setelah mobil berhasil di starter, Saya langsung tancap gas, dan tidak lupa culik Kang Dayat untuk dibawa ke BSD (jaga-jaga ada gangguan dijalan), karena mobil masih dalam kondisi alarm aktif, jadi kalau tiba-tiba mati, mobil harus di dorong. Sampai di BSD 06.30 an, sang supir diturunin di halte bis yang mengarah ke Tanah Kusir. Sampai di rumah, langsung sibuk nyari kunci/remote backup. Setelah diujicoba, berhasil matiin alarm, sementara Mama Jonnah sibuk siap-siapin barang yang akan dibawa.

Sekitar jam 7 an lebih kita akhirnya berangkat. Menyusuri jalan kecil via Parung. Sebelumnya Saya sudah print peta & rute yang dibuat oleh Kang Google, dengan start dari BSD City menuju ke Curug Luhur. Baru kali ini Saya nyetir lewat pedesaan yang benar-benar asing. Tapi berkat peta dari Kang Google, sekitar pukul 9.00 kami sampai juga dengan selamat di Curug yang dimaksud, walaupun sempat tanya sana-tanya sini, tapi kami tidak sampai tersesat. Minimnya penunjuk jalan ke lokasi ini, juga membuat Saya sempat khawatir, bahkan pedagang di warung-warung pinggir jalan ada yang sama sekali tidak tau lokasi Curug Luhur.

Sampai di lokasi…oooo…ternyata ini tho…Curug Luhur. Terletak di kaki Gunung Salak, Curug Luhur berada persis di jalan raya beraspal. Dari BSD City (Serpong) sekitar 60km. Airnya masih cukup jernih, dan tempat wisata sudah diolah sedemikian rupa sehingga terdapat 6 atau lebih kolam rengan dengan air alam, dan juga beberapa pendopo. Menurut info dari petuga setempat, lokasi tersebut di kelola oleh swasta, bukan pihak Perhutani. Menurut Saya tidak cukup bagus, tapi lumayan untuk ukuran mencari kesegaran.

Setelah puas berfoto-foto dan bermain-main air (Jonnah saja sih), kami akhiri dengan makan siang dilokasi tersebut. Karena akan melanjutkan ke lokasi lain, Saya pamitan pada rombongan Pemuda Gereja dan juga Bapak dan Ibu Gembala. Sekutar pukul 1 siang, kami berangkat menuju Bogor. Kembali dengan modal peta dari Kang Google, akhirnya kami sampai di Bogor setelah menyusuri jalan di kaki Gunung Salak yang berliku-liku dan sempit. Sekitar jam 2 siang, kami sampai di Bogor dan rencana mau mampir ke Apple Pie, karena parkir penuh, kita akhirnya nongkrong di Macaroni Panggang.  Seperti biasa Mama Jonnah clingak-clinguk nyari FO, dan berhasil menemukan 4 biji baju cantik untuk putri kami Abygael.

Selepas dari Macaroni Panggang, sesuai rencana kami akan nginep di Desa Gumati. Untuk menuju kawasan Desa Gumati (ini bukan desa, tapi lokasi resort di daerah Sentul). Tapi belum sempat tancap gas, Abang Kevin tiba-tiba nongol. Kevin adalah sepupu Jonnah dari Kakak Mama Jonnah yang nomor dua. Jadinya, kita kembali nongkron beberapa jam di Macaroni Panggang. Setelah kenyang, rencana ke Desa Gumati dilanjutkan. Kevin akan  ikut untuk lihat-lihat, tapi tidak ikut nginap. Kembali berkat pertolongan Kang Google, kami berhasil menemukan lokasi melalui jalan-jalan yang kecil dan berliku-liku. Hampir saja kami mau switch ke Resort Panjangjiwo yang berada persis di depan Desa Gumati, tapi karena alasan budget dan design kamarnya, Mama Jonnah memilih Desa Gumati.

BSD City: Mulai Macet February 1, 2010

Posted by Anton Purba in Ungkapan.
Tags: , , , , ,
add a comment

Sepertinya Saya harus mulai menurunkan peringkat BSD City sebagai kawasan yang bebas macet. Sebelumya Saya pernah posting tentang BSD City sebagai salah satu “surga” baru di kawasan Tangerang. Tapi diakhir 2009 Saya mulai melihat pihak developer mulai “salah jalan”. Saya tidak menyinggung tentang kemacetan yang hampir tiap hari menimpa “U” turn di depan Giant Supermarket, Melati Mas. Walaupun itu masih dekat dengan BSD,  tapi itu mestinya tanggung jawab pihak Melati Mas untuk membangun putaran (linkaran), seperti yang ada di Alam Sutera.  Selain itu, Saya juga jarang mengarah kesana (egois ya…hehe).

Salah satu sumber  kemacetan yang mulai kelihatan adalah pintu masuk mobil di TERASKOTA (TEKO). Awalnya Saya cukup senang dengan keberadaan tempat hang-out ini. Bahkan pernah Saya sanjung di tulisan Saya. Tapi karena pihak pembuat bangunan kurang sensitif (atau kurang ahli kali ya, kasarnya), mengakibatkan flow kenderaan yang akan masuk ke TEKO sering terhambat dan menyebabkan kemacetan. Celakanya lagi, deket situ kan ada “traffic light  RSEH”, moso yang bangun kagak ngarti sih? Apa saat membangun tidak melibatkan orang ahli transportasi perkotaan? Kemacetan karena antiran kenderaan yang akan masuk TEKO, akan tumpang tindih dengan antrian kenderaan di traffic light dari arah Tangerang, dan pada hari-hari tertentu pernah mengular sampai (hampir) ke BSD Junction.

Mestinya, kalau yang bangun sensitif (ahli), pintu masuk kenderaan ke TEKO jangan di buat di bagian depan dong (atau ini berkaitan dengan Feng Shui?).  Bikin dibelakang, atau dikiri/kanan kek, biarkan orang yang punya mobil masuk ke TEKO terlebih dahulu belok ke kiri di traffic light atau sebelum German Center, atau ambil jalan ke kiri sebelum TEKO (jalan yang mengarah ke Ocean Park).  Baru nanti masuk ke TEKO lewat samping atau belakang. Biar saja, mobil yang akan antri masuk menumpuk dulu di ruko-ruko sekitar TEKO daripada di jalan protokol “Pahlawan Seribu “. Kan nanti ruko-ruko di sekitar TEKO jadi laris, dijamin deh.

Eh…mungkin ada yang akan protes, “Nanti kan di traffic light RSEH ada jalan layang? Jadi kenderaan tidak perlu antri lampu merah…!” Ah…yang bener, bukannya nanti pusat BSD City itu adalah di lokasi Foresta? Traffic light belok ke kanan dari arah Tangerang? Kalau memang pusat kota, pasti rame dong ya? Jadi kenderaan yang belok ke kanan juga pasti banyak, iya kan? Lewat bawah juga kan? Atau jalan layangnya mau dibangun seperti daerah Semanggi? Wah…mimpi kali, kan harus gusur banyak bangunan!!

Ah…sudahlah, pokoknya kali ini developer BSD City dapat jempol kebalik dari Saya. Apalagi katanya di seberang depan German Center akan dibangun Giant Supermarket dan juga gedung perkantoran, wah makin parah deh. Kalo menurut Saya, yang bukan ahli transportasi, tapi ahli protesi, diperempatan jalan protokol itu TABU (sekali lagi sangat TABU) untuk dibangun pusat keramaian dan gedung-gedung tinggi. Apalagi di Indonesia setiap rumah rata-rata punya Mobil (bener nggak juga sih?). Eh…tapi kan Saya bilang “rata-rata”, jadi orang kaya yang punya mobil 5 biji disebar merata ke yang tidak punya mobil, jadinya kan orang miskin kebagian mobil. Nah…mending diperempatan protokol itu dibangun taman kota, dan jogging track, atau bangunan-bangunan pendek, dan kalau mau ke area tersebut DILARANG bawa kenderaan, kecuali SEPEDA.

Satu lagi, itu SPBU Pertamina yang ada di pojok sebelah kiri setelah traffic light dari arah Tangerang, baiknya juga digusur aja, bikin macet, dan gak nyaman lihatnya.  Katanya mereka (Pertamina) mau “Go Green”, tapi perilakuknya tidak “Go Green”, bikin sumpek, mending dipindah.

ABYGAEL DEVIKA HASIANNA PURBA August 27, 2009

Posted by Anton Purba in Kisah Abygael.
Tags: , ,
add a comment

Jam 21.30, tepatnya pada hari Selasa, 18 Agustus 2009, aku yang sudah mulai tertidur nyenyak tiba-tiba terjaga mendengar panggilan Mama Jonnah dari kamar sebelah. Kebetulan malam itu aku tidur dikamar yang berbeda karena sedang terkena gejala flu. Kasihan Jonnah dan Mamanya kalau ketularan. Dengan tergesa-gesa aku menemui istriku dengan wajah cemas. Maklum minggu-minggu terakhir di bulan Agustus adalah minggu dimana Mama Jonnah dijadualkan akan melahirkan. Istriku kemudian berkata kalau sepertinya air ketuban di rahimnya sudah pecah sambil menunjukkan bekas cairan yang masih basah di tempat tidur. Saat itu juga kami langsung menghubungi ARCHA Clinics, klinik bersalin tempat dimana selama ini kami kontrol kehamilan. Suster jaga dengan tenang menyuruh kami untuk datang ke klinik saat itu juga supaya bisa di periksa kondisi kandungannya. Barang-barang yang perlu dibawa untuk proses persalinan sudah tersusun rapi dalam sebuah tas. Ini memang kebiasaan Mama Jonnah. Mempersiapkan semua hal lebih awal. Istriku kemudian membangunkan Mbak yang tidur di kamar bawah, dan meminta untuk menemani Jonnah dan  tidur di kamar kami. Jonnah saat itu tertidur sangat nenyak, dan sama sekali tidak terusik oleh kesibukan kami.

Selesai berdoa, dengan hati-hati kami turun ke lantai dasar dan kemudian melaju pelan dengan mobil ke ARCHA Clinics. Sampai di klinik, Mama Jonnah langsung masuk ruang bersalin dan mendapatkan penanganan. Betul, memang ketuban sudah pecah, tapi tidak ada buka-an sama sekali. Suster tidak berani mengambil tindakan apa-apa selain hanya memantau, karena tindakan sperti induksi misalnya, akan berbahaya kalau belum ada buka-an. Jadi diputuskan untuk membari antibiotik yang berguna untuk mengurangi gangguan akibat pecahnya ketuban. Dokter Oki, yang juga pemilik ARCHA Clinic sudah dihubungi dan memberikan petunjuk-petunjuk kepada para Suster.

Malam itu aku diperbolehkan tidur di ruang bersalin beralaskan sebuah kasur busa untuk menemani istriku. Setiap 1 jam Suster memeriksa kondisi janin dan Mama Jonnah.  Menjelang pagi, belum juga ada buka-an, sementara air ketuban terus mengalir. Sekitar jam 6.30 Bidan Johanna (orang ke-2 di ARCHA Clinics), datang dan memeriksa kondisi Mama Jonnah. Beliau mengatakan memang belum ada bukaan sama sekali. Setelah berkonsultasi dengan dokter, beliau memberi kesimpulan kalau kecil kemungkinan untuk melahirkan normal.

Setelah ada keputusan untuk operasi, Mama Jonnah dipindah ke ruang USG sambil menunggu dokter. Selang beberapa saat, Bapak Gembala Gereja kami datang beserta istri datang. Kemudian kami berdoa untuk memberi kekuatan pada Mama Jonnah. Selesai berdoa, kira-kira jam 8.00 dokter datang dan langsung melihat kondisi bayi lewat USG. Terlihat kalau ada lilitan plasenta di leher yang mengakibatkan kepala bayi tidak mau turun2. Mama Jonnah langsung di bawa ke ruang operasi.

Sebagai suami, aku diperbolehkan untuk masuk dan mengabadikan proses operasi. Tak lama kemudian anak yang kami tunggu-tunggu berhasil dikeluarkan dan dengan tangisan membahana memecah kecemasan. Bayi kami sehat dan cukup besar, 3,38/50. Lahir di pagi hari, tanggal 19 Agustus 2009, 1 hari sebelum aku ber-ulang tahun. Welcome ABYGAEL DEVIKA HASIANNA PURBA.

Bahaya Usus Melilit July 24, 2009

Posted by Anton Purba in Ungkapan.
Tags: , , , ,
1 comment so far

Hari ini keluarga besar kami sedang berduka. Tepatnya, anak dari salah satu sepupu Mama Jonnah, meninggal dunia. Prosesnya cukup cepat, dan kami semua merasa kaget dan sangat kehilangan. Padahal, hari Senin, 20 Juli kemarin kami baru sempat menjenguk ponakan baru ini (namanya Beva). Masih mungil, dan lucu, karena baru berusia sekitar 2 bulan.
Cerita dari keluarga, Senin malam, setelah kami pulang, Beva mulai mengalami gejala kurang sehat. Buang air sedikit bercampur dengan darah, dna muntah-muntah. Setelah dibawa ke dokter, diberi obat, dan kembali ke rumah.
Singkat cerita, pada hari Kamis, 23 Juli 2009, Beva masuk ICU RS Pondok Indah. Karena kamar perawatan penuh, akhirnya Beva dibawa ke RSI Bintaro. Segala upaya telah dilakukan, namun, Tuhan berkehendak lain. Beva akhirnya menghembuskan nafas sekitar pukul 10 (Kamis malam). Kami dapat kabar sekitar jam 11 malam, dan aku langsung meluncur ke RSI Bintaro. Tapi aku hanya bisa ketemuan dengan keluarga di tempat parkir, karena ternyata mereka sudah siap-siap untuk pulang ke rumah.

Dari cerita beberapa kerabat, Beva kemungkinan terkena serangan usus melilit. Karena penasaran, aku segera mencari informasi tentang usus melilit. Ternyata penyakit ini memang ada dan bisa menyerang balita sampai dewasa. Penyebabnya adalah virus, dan memiliki gejala-gejala seperti demam, muntah-muntah, tidak nafsu makan, gelisah, perutnya
sebentar-sebentar sakit, buang air besarnya lunak (atau malah tanpa disertai buang air besar). Periode pengobatan yang direkomendasi adalah 48 jam, dan kalau lebih dari itu harus dioperasi. Jika tidak ditangani dengan segera, maka akan terjadi gagal usus dan keracunan di darah. Akibatnya seluruh tubuh akan berwarna biru, dan kemungkinan untuk bertahan hidup sangat kecil.

Gejala ini cukup mirip dengan yang dialami Beva, dan mungkin karena dokter yang memeriksa pertama kali menganggap Beva hanya sakit perut biasa, sehingga penanganannya agak terlambat. Sempat ada wacana bahwa Beva mau dioperasi, tetapi entah kenapa hal tersebut tidak sempat dilakukan.

Selamat jalan Beva!

BB oh BlackBerry® June 25, 2009

Posted by Anton Purba in Ungkapan.
Tags: , , ,
add a comment

Ini adalah postingan ke-2 mengenai ganasnya pengaruh sosial ponsel pintar BlackBerry di Indonesia. Ceritanya begini, 23 Juni kemarin, aku harus belanja di Correfour yang bersebelahan sama POINS Square, di daerah Lebak Bulus. Selesai belanja, sekitar jam 8 malam, aku bergegas untuk ke kasir dan membayar semua barang yang sudah aku pilih. Turun ke lantai dasar, aku langsung pergi ke Solaria, dan belum sempat duduk, aku udah panggil si Mbak untuk pesan Nasi Cap Cai, plus teh hangat. Ini adalah menu favorit kalau aku ke Solaria.

Sambil menunggu pesanan, aku lihat kanan kiri. Scan mata aku hentikan di tempat dimana ada pasangan yang sedang makan malam. Sepertinya mereka sangat dekat, dan mungkin juga sudah menikah, melihat aura yang terpancar dan bahasa tubuh. Gak pentinglah, yang jelas mereka dekat. Sambil makan, masing-masing sibuk dengan BB-nya. Entah apa yang di pencat-pencet, yang jelas justru mereka jarang berbicara berdua, padahal duduknya dempet gitu. Sekitar 5 menit kemudian, pesenanku datang, dan sambil makan aku terus monitoring gerak-gerik pasangan ini. Tidak lama kemudian, yang cowok mengankat telepon, dan kelihatan berbicara dengan nanda santai dan benyak bercanda. 1 menit, yang cewek juga menerma telepon dan asyik ngobrol, entah dengan siapa. Ke-duanya makin asyik dengan obrolan masing-masing via BB. Eh…bedanya apa BB dengan HP biasa kalau lagi ngomong? Cukup lama juga, sampai selesai aku makan, 5 menit kemudian, mereka masih on the phone.

Disisni, aku hanya akan bahas perilaku sosial mereka yang menurutku sangat tidak lazim. Sebagai orang kampung, jelas aku tidak akan setuju kalau saat makan malam di restoran aku dicuekin oleh pasangan hanya karena dia asik dengan BB-nya.  Mungkin kalau untuk hal yang penting-penting sih oke, tapi kadang yang bikin aku geli, banyak orang dengan asyiknya pencet-pencet tombol HP padahal gak jelas pencet apaan. Aku ambil contoh BB, karena barang ini sedang sangat digandrungi hanya sekedar untuk meningkatkan status pergaulan.

Kehadiaran gadget seperti BB sedikit banyak telah merubah perilaku sosial pemakainya. Tidak hanya di Solaria tadi, hampir di seluruh pusat keramaian banyak orang yang lebih perduli dengan gadget yang dia pegang, padahal jelas-jelas disamping atau didepannya ada teman atau malah pasangannya. Aku bukan pengamat sosial, jadi sulit bagiku untuk membahas topik ini secara ilmiah. Tapi yang jelas, perilaku seperti ini menurutku bukanlah sebuah contoh yang baik, dan kadang akan menjengkelkan kalau kita menjadi korban.

Sebagai penutup, di sebuah jejaring sosial, ada seorang teman yang mengungkapkan kekesalannya dan di statusnya berkata:

I hate people who care more about their BB than the real people talking to them”

Cukup banyak juga yang komentar dan salah satunya yang menurut aku cukup pedas adalah:

…hahahahaha..gue barusan juga ngebahas ama Kenny..kalo ngobrol ama org yg berBB aneh..dikit dikit liat BBnya..lah yang diajak ngobrol ada di deketnya dianggep apa yak…”

Nah…lho, aku nggak sendirian kan?

Hyponatremia = Kurang Garam June 11, 2009

Posted by Anton Purba in Ungkapan.
Tags: , , ,
add a comment

Sabtu, 6 Juni 2009, sekitar pukul 4 dinihari aku merasakan demam yang luar biasa. Belum sangat luar biasa sebenarya, karena setelah di cek dengan termometer, hasilnya sekitar 37 derajad Celcius. Aku menganggap ini hanya demam biasa kerena saat itu aku memang sedang menderita sakit tenggorokan (radang). Pukul 7 pagi, Mama Jonnah membatalkan janji kami dengan beberapa saudara yang akan menghadiri sebuah pernikahan adat Batak. Itu artinya, aku tidak kuat lagi walau hanya sekedar duduk, karena bisa saja kami naik taksi dan aku tidak perlu menyetir mobil.

Berbagai macam cara kami lakukan untuk menurunkan panas yang aku rasakan, salah satunya dengan kompres menggunakan air hangat. Ada sedikit perubahan dan lambat laun panasnya menjadi turun ke angka 36 sekian. Tetapi badanku rasanya sangat tidak enak dan menggigil. Sekitar pukul 8 pagi, aku mengkonsumsi panadol dengan harapan supaya bisa tidur. Sebelumnya aku memberitahu Pendeta Gereja kami akan kondisiku, dan dan kami berdoa lewat telepon.  Setelah mengkonsumsi panadol, aku  tetap tidak bisa tidur dan perutku rasanya penuh dan mual yang luar biasa. Aku coba untuk muntah dengan cara memasukkan jari ke tenggorokan, dan berhasil mengurangi kembung diperut. Sekitar pukul  10 pagi (aku tidak tau pastinya), aku merasakan seuatu yang luar biasa yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya. Semua persendian di badanku rasanya mau lepas dan aku mulai kehilangan keseimbangan, aku tidak dapat lagi fokus baik gerakan maupun ucapan. Badanku rasanya lemas, tetapi aku masih bisa berpikir dan meminta sesuatu ke Mama Jonnah.

Akhirnya aku minta Mama Jonnah untuk menghubungi Pendeta kami, aku bersikeras untuk dibawa ke RS segera. 15 menit menunggu akhirnya Pendeta Gereja kami (Herry Wuntu & Yenny Wuntu) datang dan aku minta didoakan sebelum berangkat ke RS.  Saat itu aku mustahil untuk menyetir sendirian, dan kalaupun naik taksi, di RS nanti siapa yang akan mendampingi aku? Sambil berdoa, aku peluk Pak Herry dengan erat, karena aku merasa sangat ketakutan.

Di perjalanan, aku masih bisa diajak  bicara, bahkan saat menentukan RS pun aku masih bisa, dan akhirnya kami pilih RS Eka Hospital yang berada dekat rumah. Aku masih bisa berpikir rasional dan tidak memilih RS yang jauh-jauh, karena kondisiku sudah sangat parah. Rumor RS Eka masih baru dan belum begitu banyak dokter yang bagus praktek disana, aku buang jauh-jauh. Aku lebih percaya Tuhan lebih dari segalanya, dan Dialah yang akan menyembuhkan aku. RS dan Dokter hanya perantara.

Sampai di RS, aku langsung pakai kursi roda. Awalnya aku dibawa ke UGD, tapi dokter UGD bilang mending dibawa ke THT, karena kemungkinan hanya penyakit “gondongan”. Walaupun agak kecewa, tapi nurut ajalah, padahal kondisi yang kurasakan saat itu benar-benar mencemaskan. Aku tidak mampu lagi mengangkat kepala tegak,  semua anggota tubuh lemas, dan tidak dapat berkomunikasi dengan lancar.  Sampai di THT, doketr bilang bukan gondongan, dan tidak ditemukan indikasi gangguan di sekitaran THT, jadi aku di rujuk lagi ke Internis. Agak lama juga menunggu, dan kondisiku makin lemas. Sampai di Internis, aku tidak mampu lagi berkomunikasi dan akhirnya aku kehilangan kesadaran.

Sadar-sadar aku sudah di ruang perawatan, dalam kondisi terinfus. Setelah dilakukan tes Laboratorium diketahui kandungan Natrium dalam darahku hanya sekitar 120-an dari rujukan 135-145. Istilah medisnya Hyponatremia. Setelah 8 jam di beri infus, kesadaranku kembali normal.

Begitulah, aku kembali masuk RS gara-gara (kemungkinan) diet ketat yang aku lakukan selama 2 bulan berturut-turut. Ya, sebelumnya aku kena Fatty Liver, dan disarankan untuk diet, mungkin karena terlalu semangat, aku hanya makan 1 kali sehari. Tapi yang paling penting adalah pertolongan Tuhan selalu datang pada waktu-Nya. Dan dikala sakit, orang-orang terdekat selalu siap dan ada untuk mendampingi. Puji Tuhan, Gembala Sidang di gereja kami, selalu memberikan waktu 100% untuk setiap jemaat yang membutuhkan. Senin, 8 Juni 2009 aku keluar rumah sakit dengan kondisi yang cukup baik.

Antara Monyet dan Beruk Jalan Tol May 26, 2009

Posted by Anton Purba in Ungkapan.
Tags: , , , , ,
add a comment

Setiap pagi aku melintas di jalan Tol Serpong-Ulujami antara pukul 07.15-07.30. Sering kondisi jalan tol yang masih 2 jalur tidak mampu lagi menampung kenderaan yang tumpah ruah dari arah Serpong ke Jakarta. Untung pihak Jasa Marga sebagai pengelola sangat tanggap dan saat ini jalur tambahan sedang dikerjakan.  

Sebenarnya, kondisi 2 jalur sudah mencukupi, jika aturan-aturan yang ditetapkan oleh pengelola jalan tol di terapkan oleh kedua belah pihak, baik pengemudi dan pengelola.  Tapi apa mau dikata, uang selalu bicara disini. Dengan jelas tiap pagi atau malam aku melihat truk-truk yang kelebihan muatan dan melaju dibawah kecepatan minimum. Umumnya truk ini bermuatan pasir, yang tentu saja akan ngos-ngosan untuk diajak melaju kencang.  Truk-truk inilah yang selalu membuat antrian dibelakang. Tapi, kenapa pengemudi truk ini dengan berani masuk ke jalan tol, padahal tau benar kondisi kenderaannya tidak mampu melaju kencang? Ujung-ujungnya uang, dan para sopir sudah mempersiapkan untuk itu.  Polisi patroli jalan tol (Highway Patrol) akan menggiring mereka ke bahu jalan, dan disana perdamaian akan terjadi, dan mereka dapat melenggang dengan leluasa walapun dengan kecepatan 40km/jam.  Tentu saja Pak Polisi akan mengancam tilang dengan alasan membuat macet jalan tol!

Ironis sekali memang, para pengemudi truk tidak punya pilihan, karena akses dari Serpong ke Jakarta mau tidak mau lewat jalan tol. Bagi mobil pribadi, tentu ini sangat mengganggu karena dengan kondisi jalan 2 jalur dan kecepatan 40km/jam, antrian panjang akan terjadi karena jalan otomatis hanya menjadi 1 jalur (jalur kanan). Mobil pribadi yang sebelumnya memakai 2 jalur dan kecepatan 80km/jam dengan terpaksa harus antri untuk ambil jalur kanan. 

Jangan dongkol dulu sama sopir truk, ternyata setelah aku amati, banyak juga sopir mobil-mobil pribadi yang membuat antrian ke belakang. Biasanya mereka ini adalah sopir-sopir yang ingin mencari aman dan enak sendiri. Ambil lajur kanan padahal dengan kecepatan kenderaan sangat minimum. Udah tau bikin macet ke belakang, tetapi malah asyik-asyik bertelepon ria. Sungguh bodoh dan bloon. Biasanya supir-supir jenis ini diberi julukan Beruk. 

Dengan kondisi tersebut diatas, tidak jarang pengemudi mobil pribadi menjadi nakal dan nyelonong dari bahu jalan atau menyalip dari lajur kiri. Pengemudi-pengemudi inilah yang kerap mendapat julukan Monyet jalan tol.  Tidak jelas asal usulnya sebutan ini, tapi yang jelas mungkin supaya identik dengan ketidak disiplinan. 100% aku tidak akan menyalahkan para monyet-monyet ini, karena mereka mengejar waktu tapi malah dihalani oleh beruk-beruk bodoh dan bloon. 

Kondisi ini tentu saja tidak hanya terjadi di Tol Serpong-Ulujami, tapi hampir 99% jalan tol di JABODETABEK tersendat karena banyaknya truk atau mungkin bus  yang tidak melaju dengan kecepatan semestinya. Diperparah lagi ulah beruk-beruk yang ambil jalur kanan seolah mau parkir. Untung selama ini aku belum pernah jadi beruk, tapi kalau untuk jadi monyet, sering kulakukan dengan terpaksa, dan diiringi umpatan-umpatan ke beruk-beruk.

Kesialan Yang Bertubi-Tubi May 11, 2009

Posted by Anton Purba in Ungkapan.
Tags: , , , , , , ,
2 comments

Tit…tit! Tit…tit! Alarm di HPku berbunyi melengking. Dengan mata masih berat aku coba untuk bangun, aku cari HP yang masih mengeluarkan suara yang cukup memekakkan telinga. Jam di layar HPku menunjukkan angka 05:00, Fri 08-05-09. Aku melirik ke sebelah, istriku masih tertidur pulas. Anakku Jonnah juga masih tertidur dengan gaya tidur yang khas.  Sesuai dengan rencana, hari ini aku akan ke kantor naik kereta api. Ini sudah aku rancang sejak minggu lalu. Pulang kantor, aku akan langsung pergi ke Gambir dan meneruskan perjalanan ke Semarang. Besok, ponakanku tercinta, Mia, akan bertunangan. Acara ini harus aku hadiri, karena Mia adalah anak pertama Kakakku yang tertua, yang tinggal di sebuah desa terpencil, di kaki G. Ungaran, Sumowono.

Selesai menelan potongan buah pepaya terakhir, aku bergegas ke kamar mandi. Semenjak positif fatty liver, aku memang hanya mengkonsumsi buah dan 2 potong roti gandum yang diolesi madu. Ini adalah menu wajib untuk pagi dan malam. Siang hari aku hanya makan nasi 1 sendok (centong) plus lauk dan sayur yang tidak berlemak. Sebelum masuk kamar mandi, aku melirik jam di layar HP yang menunjukkan 05.45, Fri 08-05-09.  Berarti ada waktu 15 menit untuk mandi. Perjalanan ke stasiun Rawabuntu memakan waktu sekitar 20 menit dengan berjalan kaki, tepatnya jalan cepat. Rencananya aku akan menumpang KRL Express, Serpong-Kota, yang akan berangkat dari Serpong sekitar jam 07.10. Selesai mandi aku langsung bergegas untuk berganti pakaian. Aku meminta istriku untuk segera membangunkan Jonnah, supaya dia bisa melihat papanya pergi. Setiap hari, ketika berangkat ke kantor, aku selalu berusaha untuk pamitan sama Jonnah. Tapi hari ini adalah hari khusus, selain aku berangkat agak pagi, juga aku  tidak akan pulang sampai hari 3 hari ke depan.  Jonnah bangun dengan mata yang masih sipit, artinya dia masih mengantuk berat. Setelah kuajak bercanda, dia mulai segar dan kemudian kami bertiga berdoa.

Selesai berdoa, jam menunjukkan 06.15, ini artinya aku harus segera berangkat. Aku melangkahkan kaki keluar rumah diikuti Jonnah dan istriku. Jonnah sedikit heran, kenapa hari ini aku tidak naik mobil seperti biasanya. Celana jeans, sepatu kets dan kaos T-shirt membuatku semakin percaya diri untuk memulai langkah pertama. Dengan jalan cepat, aku menyusuri jalan komplek rumah kami. Lambaian tukang ojeg di pintu gerbang tidak membuatku tergiur, aku percepat langkahku.  Tepat 06.35, aku sampai di stasiun Rawabuntu. Ini adalah pertama kalinya aku menginjakkan kaki di stasiun yang sempat mau di tutup, tetapi akhirnya justru di bangun menjadi stasiun beneran dan beroperasi di awal 2009. Dulunya stasiun ini hanya tempat persinggahan, dan bukan stasiun resmi. Aku sempat bingung karena tidak ada petugas karcis di peron. Setelah tanya sama petugas yang berseragam, aku bergegas menuju tempat yang ditunjuk. Sampai di loket, aku minta karcis KRL Express, tapi ternyata tiket KRL Express tidak dijual di Rawabuntu. Aku diminta naik KRL Express yang datang dari Jakarta, kemudian turun dan beli tiket di Serpong. Kemudian kembali naik ke kereta yang sama menuju Jakarta. Aku ikuti petunjuk Pak Kasir dengan cermat, dan tanpa kesulitan aku sudah duduk manis di KRL Express yang akan menuju Jakarta. Jam di layar HP masih menunjukkan waktu 06.55, Fri 08-05-09. Ini artinya aku harus duduk menunggu sampai kereta berangkat 07.10. Dengan kondisi AC yang cukup dingin, bagiku tidak menjadi masalah kalau harus menunggu.

Belum 5 menit duduk menunggu, tiba-tiba aku melihan sosok laki-laki paruh baya duduk di seberang. Kemudian, tanpa ragu-ragu, kami saling bertatapan dan mulai menyapa. Ya, aku ketemu Pak Agung di kereta KRL Express ini. Pak Agung adalah orang yang aku kenal di tahun 2002, ketika M-Web mulai menjual beberapa anak perusahaan, termasuk tempaku bekerja. Terakhir, Pak Agung yang bekerja di Depertemen ESDM, sempat menjadi pelanggan kantorku. Pak Agung tinggal di komplek Batan Indah, yang hanya 15 menit jalan kaki dari Stasiun Serpong. Setelah basa-basi, akhirnya Pak Agung menjelaskan panjang lebar mengenai KA Serpong-Jakarta. Aku cukup beruntung hari ini, aku mendapat pencerahan dan trik naik KA Serpong-Jakarta, gratis pula.

Selain karena hari aku harus ke luar kota, aku memang berniat untuk mencoba naik KA ke kantor 2-3 kali dalam 5 hari kerja. Ini untuk menambah jam terbangku berolah raga. Sejak sakit kemarin, aku semakin intensif untuk jogging di hari Sabtu dan Minggu. Menurutku itu masih kurang, sehingga aku putuskan untuk mulai naik KA. Dengan naik KA, aku akan jalan kaki kurang lebih 5km tiap hari, dengan catatan tidak tergiur oleh lambaian tukang ojeg. Ini tentu saja akan mengurangi lemak yang menyelimuti liverku.

Pak Agung menyarankan supaya aku turun di Stasiun Dukuh Atas (Sudirman), dan nanti cukup meyeberang untuk naik Kopaja ke kantorku yang berada di perempatan Mampang-Kuningan. Kebetulan beliau juga akan turun di sana dan berjanji akan memanduku untuk mendapatkan Kopaja. Tapi karena aku dari awal sudah memiliki rencana untuk turun di Stasiun Palmerah, aku bilang ke Pak Agung, mungkin lain hari saja akan aku coba.

Sampai di Palmerah, ternyata sesuai informasi Pak Agung, cukup banyak penumpang yang turun di sini. Aku kemudian turun, dan menyeberang rel untuk menuju arteri Slipi.  Tapi ternyata aku salah perhitungan, harusnya aku turun dan tidak perlu nyebrang rel, melainkan menyusuri jalan Palmerah sebelah Manggala Wanabakti. Ternyata hampir semua yang turun di Palmerah berjalan kaki ke arteri Slipi di seberang aku berjalan kaki. Harusnya aku mengikuti Saran Pak Agung untuk tidak perlu menyeberang rel. Aku cukup lama untuk sampai tempat pemberhentian Bus 46 yang menuju ke arah Kp. Rambutan. Ini semua karena aku sudah salah dari awal saat mengambil jalur untuk berjalan kaki. Itu adalah kesialan pertama yang aku rasakan hari ini.

Sampai di halte bus bayangan yang dituju, aku menunggu Bus 46 dengan setia, karena menurut informasi cuma bus itu yang paling cepat karena memiliki unit bus yang cukup banyak. Tidak sampai 5 menit bus yang kutunggu datang.  Seperti biasa, kondisi Bus di Ibu Kota sangat tidak manusiawi. Sampai dalam bus aku mulai curiga pada beberapa orang yang dengan sengaja memepet seorang wanita. Mungkin karena wanita tersebut merasa terganggu dan tau bahwa yang disamping kanan-kirinya adalah  pencopet, dia buru-buru turun di halte terdekat. Setelah wanita tersebut turun, sepertinya target mulai diarahkan kepadaku. Tapi karena aku merasa memiliki tampang yang nyaris seperti copet, aku tidak ambil pusing, dan pura-pura cuek. Saat bus ngerem mendadak untuk berhenti di sebuah halte, 2 orang yang dulunya ngerjain wanita yang sudah turun, tiba-tiba juga mulai merapat untuk memepet aku yang kebetulan harus bersusah payah untuk menggapai pegangan di langit-langit bus, karena tubuhku yang mungil. Karena tidak merasakan sesuatu yang mencurigakan, aku cuek saja. Saat tiba di halte Patra, Gatsu, aku segera turun. Betapa kagetnya aku ketika ingin melihat jam di HP, ternyata HP-ku sudah raib. HP yang sengaja aku masukkan di saku celana depan, ternyata bisa hilang juga. Untung dompetku belum sempat diincar. Ini adalah kesialanku yang ke dua. Sampai di kantor, aku segera menelepon istriku untuk mengabarkan apa yang terjadi, dan berpesan supaya hati-hati kalau ada yang menelepon dengan dalih keberadaanku.

Aku segera bergerak cepat dengan menelepon CS untuk melakukan pemblokiran terhadap nomorku. Ternyata, pemblokiran hanya bisa dilakukan di Service Center. Setelah tanya sana-sini, Service Center terdekat ada di Jl. Wolter Monginsidi yang tidak jauh dari kantorku. Aku bergegas ke sana, tapi ternyata alamat yang diebutkan sudah dihuni oleh perusahaan lain. Ini adalah kesialanku yang ke tiga.

Aku putuskan untuk segera balik ke kantor, dan berusaha mengumpulkan informasi yang paling akurat.  Akhirnya aku  pergi ke Service Center yang berada di Menara Rajawali. Jadi selesai dari sana, nanti aku bisa langsung ke Ambasador untuk membeli HP pengganti. Dengan jasa tukang ojeg, aku tiba di Menara Rajawali dalam waktu 5 menit. Aku mendapat no antrian 341 dan harus menunggu 4 orang dilayani. Selesai urusan, aku dapat kartu baru dengan nomor yang lama, dan membayar ganti kartu Rp. 18.000, harga yang menurutku sangat mengada-ada. Harusnya untuk hal-hal seperti ini diberikan secara gratis.

Aku kemudian melangkah ke luar Menara Rajawali tanpa lihat kanan kiri. Tapi setelah jalan kaki lebih dari 300m, ternyata jalan yang aku ambil salah, dan akibatnya aku harus mengitari Mega Kuningan dan berjalan memutar untuk menuju Ambasador. Harusnya, keluar dari Rajawali aku ambil kanan, dan cukup 5 menit untuk sampai di Ambasador. Tapi karen salah jalan, aku hampir jalan kaki selama 30 menit. Ini adalah kesialan yang ke empat.

Sampai di Ambasador, aku segera mencari HP yang sudah aku incar, dan segera bergegas pulang ke kantor setelah menenteng Samsung E1110, cukup dengan membayar 370 ribu. O..ya, HP ku yang diambil copet di Bus 46 adalah Samsung C130, yang aku beli dengan harga 450 ribu. Karena sudah hampir 2.5 tahun, mungkin saat dijual, harga 100 ribu pun sudah mujur. Jadi yang paling membuat aku sakit hati adalah 300 phonebook yang selama ini menghuni memori HP ku lenyap karena ulah copet.  Sampai di kantor, aku aktifkan HP yang baru aku beli dengan kartu yang baru aku dapat. Segera ku beritahu istriku bahwa aku sudah beli HP baru.

Sesuai dengan rencana, hari ini aku akan keluar kantor sekitar jam 16.30 untuk kemudian meluncur ke Gambir dan mengejar kereta yang akan ke Semarang. Kembali dengan jasa tukang ojeg, aku tiba di gambir hanya dalam waktu 10 menit. Aku segera ke loket, kesialan kembali menimpa. Ibu-ibu yang antri tepat di depanku adalah orang terakhir mendapatkan tiket KA Sembrani. Aku berpikir keras untuk bisa mendapatkan tiket, tapi pantang bagiku untuk membeli dari calo. Setelah cek dan bertanya ke Mbak Loket, KA selanjutnya dengan tiket yang masih tersisa adalah Argo Anggrek, berangkat jam 21.30, tapi penjualan tiket baru dibukan jam 19.20.  Ini adalah kesialanku yang ke 5 hari ini.

Setelah aku pertimbangkan, mungkin baiknya aku batalkan untuk naik KA, karena dengan harga tiket KA Angrek yang mungkin 300 ribuan, bagiku sangat konyol, mending aku naik pesawat. Akhirnya aku putuskan untuk menuju Terminal Rawamangun, mengejar bus malam yang menuju Ambarawa, atau paling tidak melewati Semarang. Kembali dengan bantuan tukang ojeg aku bergegas ke Rawamangun dari Gambir. Hari Jumat kali ini terasa padat, dan aku baru sampai di terminal Rawamangun sekitar 30 menit kemudian. Aku sudah yakin tidak akan mendapat tiket bus yang aku incar, PO Ramayana. Dugaanku benar, terpaksa aku mencari-cari bus yang paling tidak lewat Semarang. Akhirnya aku dapat bus Muji Jaya, Jakarta-Jepara, dengan harga tiket 120 ribu, aku mendapatkan sebuah tiket plus 1 kupon makan. Lumayan pikirku, jadi tidak usah keluar uang lagi untuk makan malam. Bus berangkat sangat terlambat, jam 20.00 WIB, dari jam 18.30 yang di janjikan di dalam tiket. Tiba di tol Cikampek, bus mulai dipacu kencang, dan aku berharap besok pagi akan tiba di Semarang sekitar jam 07.00, dan lanjut ke Sumowono, sehingga bisa istirahat sebentar, karena acara tunangan keponakanku akan dijadualkan berlangsung sekitar jam 16.00.

Tiba-tiba, ditengah jalan tol dekat pintu tol Jatiwaringin,  mesin bus tiba-tiba mati, karena tidak bisa di starter,  bus akhirnya di dorong oleh beberapa penumpang yang duduk dekat pintu. Bisa dibayangkan, mogok di tengah jalan tol,  hari Jum’at pula! Macet pasti! Akhirnya bus dapat di dorong ke bahu jalan, dan mulai di cek kerusakannya. Kata Mas Knek, bus masuk angin, sehingga solarnya gak mau turun. Setelah di coba-coba/pancing-pancing, mesin bus kembali menyala. Bus kemudian  kembali berjalan, karena sudah ada riwayat mogok, Pak Sopir dengan bijaksana mengambil jalur kiri, sehingga kalau mogok lagi, mudah untuk masuk ke bahu jalan. Belum jalan 1km, bus kembali mati mesin. Mas Knek kembali turun, bus jalan kembali 10 menit kemudian. Belum 1km, bus lagi-lagi kembali mati mesin. Busyeet dah!! Semua penumpang mulai mengumpat dan minta bus pengganti segera dikirimkan. Tetapi dengan trik yang sama, bus kembali jalan. Ketika sampai di dekat pintu tol Pondok Gede, untuk ke sekian kalinya kembali bus mati mesin. Dan setelah didesak, kru bus mengaku ternyata ini bus kehabisan solar. Ada sedikit kerusakan di tangki, jadi  supaya tidak mogok tangki harus tetap terisi minimal 1/4. Jika kurang, solar tidak akan bisa naik ke mesin. Saling menyalahkan terjadi antar kru bus. Memang sebenarnya sesuai kebiasaan, bus ini akan mengisi solar di Rest Area Km 21,  sebelum pintu keluar Tambun. Kru bus kemudian segera mencari solar di SPBU sekitar pintu tol Pd. Gede. Dengan modal 1 ember solar, bus kemudian dapat melanjutkan perjalanan dan tiba di Km 21 untuk mengisi solar dari SPBU yang ada di lokasi itu.  Saat itu jam di HP baruku menunjukkan waktu 22.30, Fri 08-05-09.  Aku sudah pasrah, ini pasti akan terlambat masuk Semarang. Mudah-mudahan tidak macet pikirku. Tapi mendekati Kerawang, bus mulai tersendat. Kepadatan terjadi karena ulah Jasa Marga yang sampai sekarang belum membuka jalur ke-3 yang sudah selesai dibangun. Keluar dari tol Cikampek, bus kembali tersendat dan sialnya macet terkunci sebelum Pemanukan. Sampai di RM Taman Sari 2, jam sudah menunjukkan angka 05.00, Sat 09-05-09. Benar-benar kejadian langka! Seharunya RM tersebut adalah tempat makan malam sekitar jam 10 malam, tapi kali ini untuk makan pagi! Dari RM Taman Sari 2, bus berjalan relatif lancar, hanya kadang-kadang terganggu karena pasar tumpah.

Tepat jam 11.30, bus tiba di Grigsing dan berhenti di sebuah RM yang tidak terkenal. Semua penumpang terpaksa makan siang di tempat tersebut.  Harusnya lokasi Grignsing adalah pemberhentian terakhir sebelum menyusuri Alas Roban. Bagi bus yang datang dari Jakarta, jika tepat waktu akan tiba ditempat ini sekitar jam 04.00-05.00 dini hari bahkan kadang-kadang lebih pagi, bus hanya berhenti sebentar dan setelah ganti supir bus akan melanjutkan perjalanan. Tapi tidak untuk bus yang aku tumpangi, justru disini kami harus makan siang. Akhirnya dengan selamat aku sampai juga di Semarang sekitar jam 12.30, Sat 09-05-09. Sepanjang perjalanan aku tidak henti-hentinya di hubungi  oleh Kakak-kakak yang sudah ngumpul di Sumowono, dan tentu saja istriku yang tiap saat SMS bertanya mengenai kondisiku.

Aku turun dari bus Muji Jaya, di Kaligawe bersama dengan seorang Bapak-bapak yang kerja di BP. Bapak ini duduk persis di belakangku, beliau memang rajin pulang ke Salatiga karena keluarganya tinggal disana. Dengan  alasan dia harus kerja Off-Shore, keluarganya memutuskan untuk tinggal di Salatiga, lokasi yang masih enak untuk hidup sehat, toh jadualnya 2 minggu di laut, 2 minggu off. Nasibnya harus naik Muji Jaya juga karena sudah tidak ada pilihan lain. Setelah turun dari bus kami segera berpisah, Bapak ini langsung dapat bus SAFARI Semarang-Solo, AC pula.

Aku dengan masih setia menunggu bus 3/4 yang ke arah Jl. Pemuda untuk menebus tiket pesawat yang sudah di booking oleh istriku sebelumnya. Aku sudah merubah rencana, dan memutuskan untuk naik pesawat saat pulang ke Jakarta, Minggu besok.  Aku tidak mau lagi mati gaya di PANTURA. Aku sebenarnya gambling, aku juga tidak tau apakah di Jl. Pemuda ada travel, tapi menurut perkiraanku, jalan sebesar Jl. Pemuda pasti ada travel. Mengitari Jl. Pemuda, hayalanku sempat kembali ke masa lalu, dimana tahun 1999 aku pernah menjadi dosen di STIMIK AKI, yang persis berada di lokasi itu. Awal tahun 2000 adalah hari terakhirku menginjakkan kaki di Semarang, jadi sudah 9 tahun aku tidak melihat kota ini.  Tapi aku tidak sempat berpikir untuk menikmati kota ini karena saat itu karena fokus mencari travel. Akhirnya aku menemukan sebuah travel setelah tanya-tanya  pada tukang parkir sepanjang jalan itu. Selesai menebus tiket, aku segera naik bus ke arah Kaliwiru dan memilih untuk naik bus jurusan Semarang-Yogya, ketimbang Semarang-Sumowono. Jika aku menunggu bus yang langsung ke Sumowono, waktuku akan habis hanya untuk menunggu bus datang, sementara saat itu sudah jam 13.30, 3.5 jam lagi keponakanku akan tunangan.  Jadi aku putuskan untuk naik bus Semarang -Yogya dan turun di Ambarawa.  Cukup lama aku menunggu bus trayek Semarang-Yogya, sekitar jam 14.00 bus yang aku tunggupun datang dan tanpa ada halangan berarti bus sampai di Ambarawa sekitar jam 15:00. Aku langsung menuju tempat ngetem angkutan yang akan ke Sumowono, karena belum ada penumpang baru 20 menit kemudian berangkat. Sampai di Sumowono, aku di jemput Mas Nurdin, kakak iparku yang lain  juga orang Sumowono. Jadi aku punya 2 Kakak yang menikah dengan orang Sumuwono, Kakak tertua dan Kakak nomor empat. Tepatnya kalau Kakak nomor empat menikah dengan orang Losari, 2km dari Sumowono.

Sampai di rumah Kakak, acara sudah dimulai dan aku hanya kebagian endingnya, yaitu foto-foto. Selesai acara kami ngobrol-ngobrol sebentar untuk menentukan tanggal pernikahan ponakanku. Sekitar jam 22.00 aku bergegas tidur, karena besok Minggu aku harus berangkat jam 7.30 pagi karena pesawatku berangkat jam 11.40.  Jadi aku cuma tinggal 12 jam di rumah Kakak, sementara aku habiskan waktu hampir 24 diperjalanan dari Jakarta-Sumowono. Benar-benar hari yang cukup melelahkan bagiku.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.